MAKALAH PENGELOLAAN LABORATORIUM

MAKALAH
PENGELOLAAN LABORATORIUM



Disusun Oleh:
FIKRI NURSYAWALI
NIS. 151610372

Paket Keahlian Kimia Analisis



PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 BANDUNG
Jalan Soekarno-Hatta No.596 Tlp./Fax. (022) 7563077 Bandung 40286
2017


KATA PENGANTAR
           Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Pengelolaan Laboratorium yang dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik SMK Negeri 7 Banndung.
           Laporan ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pembelajaran dan untuk memenuhi standar kompetensi mata pelajaran produktif dalam rangka peningkatan mutu tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mencapai tujuan relevansi pendidikan tuntutan kebutuhan tenaga kerja.
           Saya berharap dengan adanya tugas makalah ini dapat nerguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengelolaan Laboratoium. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebb itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membancanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.



Bandung, 03 November 2017
Penyusun,



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laboratorium disingkat (lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim,2007). Sementara menurut Emha (2002) laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia dan biologi atau bidang ilmu lain.Pengertian lain menurut Sukarno (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk menghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka misalnya kebub dan lain-lain.
Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan il,u fisika, ilmu kimia, dan ilmu biologi atau bidanng ilmu lain, yang merupakan suatu rungan tertutup atau ruangan
Pengelolaan laboraorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan,peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia) dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya.
Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar pendahuluan diatas maka dirumuskan bahwa apa saja hal penting yang ada dalam pengelolaan laboratorium.

BAB II
ISI
2.1. Pengertian Pengelolaan Laboratorium
Pengertian pengelolaan adalah kegiatan menggerakan sekelompok orang (SDM), keuangan, peralatan, fasilitas dan atau segala objek fisik lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu yang di harapkan secara optimal. Pengelolaan laboratorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia) dan aktivitas yang dilaksanakan di lanoratorium yang menjga keberlanjutan fungsinya.
Laboratorium juga sering diartikansebagai suatu ruagan atau tempat dilakukannya percobaan atau penelitian. Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap atau alam terbuka misalnya kebun botani.
Pada pembelajaran sains termasuk biologi di dalamnya keberadaan laboratorium menjadi sangat penting. Pada konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah seringkalil istilah laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum. Atas dasar inilah pembahasan tentang pengelolaan laboratorium akan dibatasi pada laboratorium yang berupa ruang tertutup.
2.2. Maksud dan Tujuan Pengelolaan Laboratorium
Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penanganannya bila terjadi kecelakaan.

· Menjadi acuan operasional bagi pengelola laboratorium dalam mengelola laboratorium secara optimal
· Menjadi acuan bagi guru yang menggunakan lab dalam memanfaatkan laboratorium sebagai sarana pembelajaran untuk mengembangkan pendekatan saintifik sesuai dengan aturan yang berlaku.

2.3. Macam-Macam Pengelolaan Laboratorium
Inventaris adalah sutu kegiatan dan usaha untuk menyediakan rekaman tentang keadaan semua fasilitas, barang-barang yang dimiliki instansi. Laboratorium SMA Negeri I Gebang, yang di dalamnya terdapat alat-alat dan bahan-bahan kimia penting, sudah tentu memerlukan inventarisasi. Ditambah lagi dengan adanya pemboman di beberapa kota di Indonesia, maka pendataan mengenai asset laboratorium menjadi sesuatu yang mutlak. Dengan kegiatan invetarisasi yang memadai akan memudahkan pengelolaan, penggunaan, pendataan asset, dan dapat diperoleh pedoman untuk mempersiapan anggaran atau memperisapkan kegiatan pada tahun yang akan datang.




BAB III
INVENTARIS ALAT DAN BAHAN
3.1 Inventaris Alat dan Bahan
Penyelenggarakan inventarisasi terhadap fasilitas dan peralatan yang dimiliki laboratorium kita bertujuan :
a) Mempermudah untuk mengetahui dimana suatu peraltan akan ditempatkan.
b) Mengurangi biaya operasional.
c) Mencegah pemakaian berlebihan bahan.
d) Mempermudah pergantian tanggung jawab dari pengelola yang satu ke yang lainnya.
e) Mempermudahkan pengontrolan, seperti terhadap kehilangan yang disebabkan oleh kecerobohan atau kecurian.
f) Memudahkan pemasukan/penyimpanan, dan pemakaian/peminjaman.
g) Mencegah terjadinya kehilangan dan penyalahgunaan.
h) Meningkatkan kualitas kerja.
Mengingat akan banyaknya kemudahan dan keuntungan yang bisa didapatkan dari penyelenggaraan inventarisasi alat dan bahan laboratorium, maka perlu disusun suatu pedoman mengenai strategi inventarisasi alat dan bahan laboratorium. Pedoman inventarisasi ini juga menjadi tolak ukur kelengkapan administrasi sekolah.
Cara penulisan format inventaris alat laboratorium:
a. Disusun berdasarkan abjad (alfabet)
b. Dipisahkan berdasarkan bahan (gelas, dan nongelas)
c. Daftar alat-alat yang berisi point-point seperti type/merk,spesifikasi, tahun, jumlah, keterangan keadaan alat (baikt atau rusak)
d. Daftar peminjam alat (jenis alat, nama peminjam)
e. Daftar pemakaian alat



Cara penulisan format inventaris bahan :
a. Disusun berdasarkan abjad (alfabet)
b. Daftar bahan kimia yanng berisi point-point seperti nomor, kode nama, wuju, jumlah, type/merk, spesifikasi, dan tahun
c. Daftar pemakaian bahan  
3.1.1 Pengelompokan Alat Bahan Laboratorium
Alat dan bahan laboratorium ditempatkan sedemikan rupa agar mudah diambil dan dikembalikan. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat dan bahan di laboratorium :
a) Aman
Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci.
b) Mudah dicari
Untuk memudahkan mencari letak masing – masing alat dan bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau laci).
c) Mudah diambil
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak dan laci .
Cara penyimpanan alat dan bahan dapat berdasarkan jenis alat, pokok bahasan, golongan percobaan dan bahan pembuat alat .Pengelompokan alat–alat kimia berdasarkan bahan pembuat alat tersebut seperti :
· Alat-alat gelas, misalnya berbagai gelas ukur.
· Alat-alat optik, misalnya mikroskop.
· Instrumen, misalnya balance.
· Alat-alat kayu, misalnya penjepit
· Bahan-bahan kimia, misalnya yang bersifat asam, basa, korosif.
3.1.2 Pemberian Label Zat Kimia
Label harus dicantumkan baik di rak, lemari, laci, dan wadah zat. Tujuan pemberian label adalah untuk memudahkan menemukan masing-masing alat dan bahan yang diperlukan. Point –point yang harus ada dalam pemberian label pada wadah zat kimia tersebut adalah :
· Kata tunggal (DANGER, WARNING, COUTION).
· Zat yang beracun dibuat dengan kode POISON.
· Nama zat.
3.1.3 Dokumen inventarisasi Alat
Dalam administrasi alat dapat digunakan perangkat admninistrasi, sebagai berikut :
A. Kartu Alat
Akan berperan sebagai catatan alat yang memberikan informasi tentang jumlahl, ditambah, dikurangi, persediaan nyata, asalnya darimana, diserahkan pada siapa. Kumpulan dari kartu alat ini dikumpulkan agar mudah menggunakannya.
Contoh kartu alat :

B. Daftar Alat
Daftar alat ini berperan sebagai rangkuman dari alat-alat- yang ada berdasarkan kartu alat. Selain itu dapat digunakan sebagai format laporan tahunan.






Contoh daftar alat adalah :

DAFTAR ALAT
No urut daftar
Nomor Kode Alat
Nama alat
Ukuran
 
Jumlah
Nomor tempat
Keterangan
















C. Buku Catatan Harian Alat
Buku ini digunakan untuk menuliskan alat-alat yang diambil dari tempatnya pada rak / lemari yang ada di gudang. Alat-alat diisi oleh guru atau petugas yang mengambil alat dari gudang. Buku harus selalu disimpan di gudang.

D. Buku Catatan Alat yang rusak dan perlu diadakan
Buku ini digunakan untuk mencatat alat-alat yang pecah, rusak, harus diperbaiki dan yang perlu diadakan. Contohnya adalah :

No
Nomor  Kode Alat
Nama alat
Ukuran
Jumlah
Keterangan
Paraf petugas/tgl
















E. Bundel Daftar Penerimaan Alat / Pembelian / dan lain-lain
Ini merupakan kumpulan daftar alat yang diterima, dibeli atau diserahkan, dll.
3.1.4 Dokumen Inventarisasi Bahan
Dalam pengelolaan zat kimia dapat dilaksanakan seperti pengelolaan alat-alat kimia. Jadi dalam hal pengadaan ruangan untuk zat, rak dan lemari dapat mengikuti seperti aturan pada pengelolaan alat. Uraian berikut sebagai tambahan penjelasan dari uraian sebelumnya.
Ruangan agar diperhatikan ventilasi dan penerangannnya. Posisi penempatan lemari/rak dipertimbangkan sehingga zat yang ditempatkan tidak langsung terkena cahaya matahari atau sumber panas lainnya. Ventilasi ruangan agar diatur sebaik-baiknya. Pendataan zat yang ada dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan zat-zatnya. Dasar-dasar pengadministrasian zat hampir sama seperti untuk alat-alat kimia. Dalam pengadministrasiannya dikenal dengan beberapa perangkat, yaitu ;
A. Kartu Zat
Kartu zat adalah catatan zat tertentu yang memberikan informasi tentang jumlahl, ditambah, dikurangi persediaan nyata, asalnya dari mana, diserahkan pada siapa. Kumpulan dari kartu zat disatukan supaya mudah menggunakannya.










B. Daftar Zat
Daftar zat ini berperan sebagai daftar rangkuman dari zat-zat yang ada berdasarkan kartu zat. Selain itu dapat juga berperan sebagai format laporan tahunan. Contoh daftar zat adalah

DAFTAR ZAT
No urut daftar
Nomor Kode Zat
Nama Zat
Ukuran
Jumlah
Nomor Tempat
Keterangan
















C. Buku Catatan Harian Penggunaan Zat
Merupakan rangkuman zat yang digunakan yang akan diadministrasikan pada kartu zat, selain itu juga mengetahui penggunaan pada tahun yang akan datang.
D. Buku Catatan Zat yang Habis dan yang Perlu Diadakan
Pada buku tersebut dapat dituliskan hal-hal sebagai berikut :
No
No. Kode Zat
Nama Zat
Ukuran
Jumlah
Keterangan
Paraf Petugas
























E. Bundel Daftar Penerimaan Zat/Pembelian dan lain-lain
Bundel ini merupakan kumpulan dari daftar zat yang diterima/dibeli atau diserahkan kepada departemen atau instalasi lain.
Dengan menggunakan perangkat administrasi seperti uraian di atas, diharapkan pengelola  zat di laboratorium kimia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
3.1. Perawatan Alat Laboratorium
Proses membersihkan harus dilakukan segera setelah peralatan digunakan. Membuang bahan berbahaya dan pembersihan bahan korosif sebelum peralatan tersebut dibersihkan.Residu organik memerlukan perlakuan dengan larutan pembersih asam kromat. Peralatan harus dikeringkan dan disimpan dalam kondisi yang tidak memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh debu atau bahan lain.

3.2.1 Macam-macam Peralatan laboratorium
Secara garis besar peralatan laboratorium  dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) bagian, yaitu :

A. Peralatan elektronika.
Peralatan elektronika adalah peralatan yang mempergunakan sumber daya listrik, misalnya : Kit Listrik (catu daya, meter dasar, multi meter, audio generator, osiloskop,
pembangkit getaran)

· Perawatan peralatan elektronika
Peralatan elektronika memiliki sifat-sifat :
1) Sensitif terhadap goncangan.
2) Sensitif terhadap medan magnet.
3) Tidak tahan terhadap suhu di atas 250 C.
4) Tidak tahan terhadap terhadap udara lembab.
5) Tidak tahan terhadap kotoran dan debu.

Berdasarkan sifat-sifatnya itu, maka peralatan elektronika perlu dihindari dari guncangan dan medan magnetik agar sensitifitas peralatan dapat terjaga. Selain itu, hendaknya penggunaan peralatan elektronika berada dalam ruangan yang bertemperatur antara 180 C – 250 C.
Setelah penggunaan peralatan elektronika, peralatan hendaknya dibersihkan dari kotoran dan debu kemudian disimpan di ruangan yang kering.

B. Peralatan yang terbuat dari bahan baku logam.
Bahan baku logam yang biasa dipakai untuk membuat peralatan, di antaranya nikel, tembaga, besi, seng dan logam campuran lainnya. Peralatan yang terbuat dari bahan baku logam misalnya : Kit Mekanik (micrometer sekrup, jangka sorong, pegas spiral, neraca pegas), Kit Listrik dan Magnet (papan rangkaian), Mikroskop.
Peralatan yang terbuat dari bahan baku logam mudah mengalami karatan. Untuk menghindari terjadinya karatan itu maka peralatan harus disimpan di tempat yang bertemperatur tinggi (± 370 C) dan lingkungan kering. Jika perlu gunakan bahan silicon sebagai penyerap air.
            Sebelum disimpan peralatan harus bebas dari kotoran, debu ataupun air yang melekat kemudian diolesi dengan minyak olie, minyak rem atau paraffin cair.

C. Peralatan yang terbuat dari bahan baku gelas.
Bahan gelas yang biasa dipakai untuk membuat peralatan, di antaranya : pyrex dan fiber glass. Peralatan yang terbuat dari bahan baku gelas, di antaranya : Kit Optika (lensa, balok kaca, prisma, cermin), Kit Kimia (tabung reaksi, pipet, buret), Kit Gelombang dan temodinamika (gelas kimia, thermometer, batang gelas), cermin pada mikroskop.
Bahan gelas banyak dipakai dalam laboratorium kimia dan biologi. Ada beberapa keunggulan maupun kelemahan peralatan yang terbuat dari bahan baku gelas, yaitu :
· Keunggulannya :
1) Bahan baku gelas tahan terhadap reaksi kimia.
2) Bahan baku gelas tahan terhadap perubahan temperatur yang mendadak.
3) Bahan baku gelas memiliki koefisien muai yang kecil.
4) Bahan baku gelas memiliki daya tembus cahaya yang besar.
· Kelemahannya :
1) Bahan baku gelas mudah pecah terhadap tekanan mekanik.
2) Bahan baku gelas mudah tumbuh jamur sehingga mengganggu daya tembus cahaya.
3) Bahan baku gelas mudah tergores.

Untuk perawatan terhadap peralatan yang terbuat dari gelas bukanlah perkara yang sulit akan tetapi menuntut ketekunan laboran. Dengan memperhatikan keunggulan dan kelemahan dari bahan baku gelas, maka untuk perawatan peralatan berbahan baku gelas harus memperhatikan :
1) Ruang penyimpanan peralatan harus bertemperatur antara 270 C – 370 C dan diberi tambahan lampu 25 watt.
2) Ruang penyimpanan diberi bahan silicon sebagai zat higroskopis.
3) Pada waktu memanaskan tabung reaksi hendaknya ditempatkan di atas kawat kasa. Boleh menggunakan pemanasan secara langsung asalkan bahan gelas terbuat dari pyrex.
4) Gelas yang akan direbus hendaknya tidak dimasukkan langsung ke dalam air yang sedang mendidih melainkan gelas direndam dengan air bersih dan dingin kemudian tambahkan detergent, larutan kalium dichromat 10 gr, asam belerang 25 ml dan aquadest 75 ml. Penggunaan detergent dapat menghilangkan lemak dan tidak membawa efek perubahan fisik. Kadang-kadang memerlukan waktu perendaman sampai beberapa jam, kemudian dibilas dengan air bersih. Keringkan dengan udara panas lalu simpan di tempat yang kering.
5) Debu, keringat, minyak dari telapak tangan mudah menempel pada peralatan berbahan baku gelas. Oleh karena itu setelah digunakan luangkan waktu sejenak untuk membersihkan permukaan peralatan dengan kain lembut atau dengan kertas tissue khusus. Gunakan alcohol, acetone, kapas, sikat halus dan pompa angina untuk membersihkan lensa jangan sampai merusak lapisan lensa. Saat ini terdapat cairan pembersih khusus kaca/lensa yang dapat diperoleh di optic untuk membersihkan kaca/lensa dengan lebih sempurna. Hindarkan membersihkan kaca/lensa dalam keadaan kering apalagi dengan menggunakan  kain yang berseray kasar karena hal itu dapat menimbulkan goresan pada kaca/lensa.
6) Letakkan peralatan berbahan baku gelas di tempat ketika tidak digunakan. Meletakkan peralatan tidak di tempatnya beresiko merusak kondisi alat karena mungkin saja peralatan tersebut tertindih atau tertekan yang mengakibatkan terjadinya perubahan fisik permanent.
3.2.2 Perawatan Alat
2.2.1 Neraca/ Timbangan
Kebersihan timbangan/ neraca harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan menimbang harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan (pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan menggunakan anak timbangan.

2.2.2 Penangas Air (Water Bath) Thermostat
Pembersihan yang dibutuhkan pada perawatan (seperti membersihkan sudut atau baling-baling roda yang berputar) dilakukan oleh operator laboratorium sesuai dengan petunjuk pabrik.

2.2.3 Media Pemanas
Permukaan alat harus dibersihkan dengan menggunakan pembersih (sabun/deterjen).Kontaminasi lebih kuat (misal adanya deposit kapur), dapat dihilangkan dengan pembersih yang khusus seperti misal asam asetat encer.

2.2.4 Alat Glassware
Prosedur pembersihan glassware tergantung dari tipe material yang terkandung di dalamnya. Gelas borosilikat mempunyai pertahanan yang sempurna dari kebanyakan asam kecuali Asam Hidroflorat. Larutan Basa kuat akan mempengaruhi gelas, inilah sebabnya kenapa detergen yang dilarutkan tidak boleh melebihi dari 2%. Menghindari reaksi terhadap deterjen dalam jangka waktu panjang  dan menghindari pengeringan yang sama pada gelas. Glassware harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah pengerasan residu. Idealnya glassware dibilas atau direndam dalam larutan organik untuk menghilangkan lemak, dan kemudian bilas kembali dengan air. Pembersihan dapat dilakukan dalam Mesin Pencuci atau secara manual.
· Pembersihan dengan Mesin Pencuci
Pilih dari sekian banyak macam campuran detergent yang ditawarkan oleh spesialis laboratorium untuk Mesin Pencuci, detergent yang dipilih harus sesuai dengan type kotoran apa yang akan dihilangkan. Beberapa jenis campuran ini memang dikhususkan untuk bermacam-macam kotoran di laboratorium, jadi pastikan anda memilih campuran yang tepat untuk membersihkan alat gelas anda. Lalu periksa rak penunjang dan penjaganya diletakkan menempel dengan material non-abrasive secara baik untuk menghindarkan gelas dari gesekan atau kerusakan oleh permukaan yang keras.

· Pembersihan Secara Manual
Metode ini merupakan metode yang sederhana karena metode ini hanya menggunakanbusa halus, kain halus  atau sikat plastik yang lembut dan tidak mengadung bulu-bulu keras. Pilih dari sekian banyak macam campuran detergent yang ditawarkan oleh spesialis laboratorium untuk pencucian manual, tergantung dari residu yang ingin dihilangkan. Lalu bersihakan menggunakan alat tadi secara perlahan dan teliti.

2.2.5 Alat Gelas Laboratorium
Alat gelas adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan dalam sebuah laboratorium dan memiliki peran yang sangat vital dalam sebuah lab. Karena perannya yang sangat vital ini lah pastinyanya alat ini sering digunakan dalam hampir semua kegiatan di dalam laboratorium, dengan semakin intensifnya alat ini digunakan tentunya akan timbul sebuah efek dasar akibat dari kegiatan tersebut, salah satunya adalah problem kebersihan dari alat ini.
Seperti kita ketahui salah satu dasar pengoperasionalan sebuah laboratorium yang sehat adalah dengan selalu terjaganya kebersihan alat-alat laboratorium ini dari segala kotoran. Dengan alat yang bersih maka kita dapat mencegah kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh kotoran,dsb. Lalu bagaimanakah cara membersihkan alat gelas laboratorium yang baik dan benar, maka simaklah beberapa penjelasan dibawah ini.
Proses pembersihan suatu alat gelas dalam sebuah laboratorium tergantung dari kegiatan apa yang dilakukan alat ini sebelum dibersihkan dan tipe material apa yang terkandung di dalamnya. Salah satu bahan yang umum digunakan dalam pembuatan alat gelas laboratorium adalah bahan borosilikat. Alat Gelas yang terbuat dari borosilikat mempunyai pertahanan yang sempurna dari kebanyakan asam kecuali Asam Hidroflorat. Larutan Basa kuat akan mempengaruhi gelas, inilah sebabnya kenapa detergen yang dilarutkan tidak boleh melebihi dari 2%. Menghindari reaksi terhadap deterjen dalam jangka waktu panjang  dan menghindari pengeringan yang sama pada alat gelas harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah pengerasan residu.
Membersihkan alat gelas laboratorium dapat dilakukan dengan membersihkan dengan mesin pencuci atau secara manual, untuk lebih jelasnya simak ulasan dibawah ini.
2.2.6 Metode Pembersihan khusus
· Noda Permanganat : Gunakan campuran yang dari 3% Asam Sulfat dan 3% Hidrogen Peroxida.
· Noda besi : Gunakan larutan HCl 50 %.
· Noda lemak : Gunakan larutan asam kromat, adalah larutan kalium dikromat dalam asam sulfat pekat.
· Bahan yang mengandung kontaminasi bakteri : Setelah dibersihkan dengan deterjen ,glassware direndam dalam larutan desinfektan atau di steam dalam Autoclave (disterilisasi).


Selama permbersihan alat gelas ini ada beberapa tindakan pencegahan dalam membersihkan alat gelas laboratorium, beberapa tindakan ini diantaranya :
· Tindakan Pencegahan Khusus selama Proses Pembersihan:
a) Jangan gunakan busa spons yang sudah terkikis seperti yang digunakan di dapur untuk membersihkan piring
b) Hindari beberapa deterjen atau larutan pembersih yang mengandung Partikel pengikis
c) Pindahkan barang-barang keras seperti spatula logam, tongkat pengaduk, atau sikat secepatnya. Mereka dapat memecahkan gelas atau menggoresnya.
d) Basa kuat domestic atau deterjen pabrikan akan melarutkan gelas dan bahkan mengakibatkan kerusakan.
e) Lepaskan bermacam2 logam perhiasan seperti cincin dengan batu jika anda akan menggunakan tangan di dalam glassware.
Dan setelah semua proses dijalankan dengan baik, maka proses terakhir dalam pembersihan alat gelas laboratorium adalah:

· Cara mengeringkan glassware
a) Setelah dicuci dan dibilas aquadest, glassware di keringkan dengan cara di tiriskan di rak peniris
b) Untuk basic glassware boleh dikeringkan dengan cara di masukkan ke dalam oven dengan suhu dibawah 60ºC
c) Untuk volumetric glassware dan analitycal glassware tidak boleh dikeringkan di dalam oven
d) Setelah dicuci dan dibilas aquadest, glassware di keringkan dengan cara di tiriskan di rak peniris
e) Untuk basic glassware boleh dikeringkan dengan cara di masukkan ke dalam oven dengan suhu dibawah 60ºC
f) Untuk volumetric glassware dan analitycal glassware tidak boleh dikeringkan di dalam oven


BAB IV
PENGARSIPAN SAMPEL
4.1. Pengarsipan sampel
Sampel (bahasa inggris: sample) merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti; dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi itu sendiri. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala yang diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi penentu baik tidaknya sampel yang diambil. Terdapat dua cara pengambilan sampel, yaitu secara acak (random)/probabilita dan tidak acak (non-random)/non-probabilita.
4.2. Macam macam sampel
4.2.1. Acak (Random sampling)
Artinya, setiap anggota dari populasi memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Tidak ada intervensi tertentu dari peneliti.
· Pengambilan acak sederhana (Simpel random sampling)
Merupakan sistem pengambilan sampel secara acak dengan menggunakan undian atau tabel angka random. Tabel angka random merupakan tabel yang dibuat dalam komputer berisi angka-angka yang terdiri dari kolom dan baris, dan cara pemilihannya dilalukan secara bebas. Pengambilan acak secara sederhana ini dapat menggunakan prinsip pengambilan sampel dengan pengembalian ataupun pengambilan sampel tanpa pengembalian. Kelebihan dari pengambilan acak sederhana ini adalah mengatasi bias yang muncul dalam pemilihan anggota sampel, dan kemampuan menghitung standard error. Sedangkan,kekurangannya adalah tidak adanya jaminan bahwa setiap sampel yang diambil secara acak akan merepresentasikan populasi secara tepat.
· Pengambilan acak secara sistematis (Systematic random sampling)
Merupakan sistem pengambilan sampel yang dilakukan dengan menggunakan selang interval tertentu secara berurutan. Misalnya, jika ingin mengambil 1000 sampel dari 5000 populasi secara acak, maka kemungkinan terpilihnya 1/5. Diambil satu angka dari interval pertama antara angka 1-5, dan dilanjutkan dengan pemilihan angka berikutnya dari interval selanjutnya. Kelebihan dari pengambilan acak secara sistematis ini adalah lebih praktis dan hemat dibanding dengan pengambilan acak sedderhana. Sedangkan, kekurangannya adalah tidak bisa digunakan pada penelitian yang heterogen karena tidak mampunya menangkap keragaman populasi heterogen.
· Pengambilan acak berdasarkan lapisan (Stratified random sampling)  Merupakan sistem pengambilan sampel yang dibagi menurut lapisan-lapisan tertentu dan masing-masing lapisan memiliki jumlah sampel yang sama.Kelebihan dari pengambilan acak berdasar lapisan ini adalah lebih tepat dalam menduga populasi karena variasi pada populasi dapat terwakili oleh sampel. Sedangkan, kekurangannya adalah harus memiliki informasi dan data yang cukup tentang variasi populasi penelitian.  Selain itu, kadang-kadang ada perbedaan jumlah yang besar antar masing-masing strata.
· Pengambilan acak berdasar area (Cluster sampling)
Merupakan sistem pengambilan sampel yang dibagi berdasarkan areanya.  Setiap area memiliki jatah terambil yang sama.  Kelebihan dari pengambilan acak berdasar area ini adalah lebih tepat menduga populasi karena variasi dalam populasi dapat terwakili dalam sampel.  Sedangkan, kekurangannya adalah memerlukan waktu yang lama karena harus membaginya dalam area-area tertentu.
4.2.2. Tidak acak (Non-random sampling)
Merupakan cara pengambilan sampel secara tidak acak di mana masing-masing anggota tidak memiliki peluang yang sama untuk terpilih anggota sampel. Ada intervensi tertentu dari peneliti dan biasa peneliti menyesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan penelitiannya.
· Pengambilan sesaat (Accidental/haphazard sampling)
Merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan tiba-tiba berdasarkan siapa yang ditemui oleh peneliti. Misalnya, reporter televisi mewawancarai warga yang kebetulan sedang lewat. Kelebihan dari pengambilan sesaat ini adalah kepraktisan dalam pemillihan anggota sampel. Sedangkan, kekurangannya adalah belum tentu responden memiliki karakteristik yang dicari oleh peneliti.
· Pengambilan menurut jumlah (Quota sampling)
Merupakan pengambilan anggota sampel berdasarkan jumlah yang diinginkan oleh peneliti. Kelebihan dari pengambilan menurut jumlah ini adalah praktis karena jumlah sudah ditentukan dari awal. Sedangkan,kekurangannya adalah bias, belum tentu mewakili seluruh anggota populasi.
· Pengambilan menurut tujuan (Purposive sampling)
Merupakan pemilihan anggota sampel yang didasarkan atas tujuan dan pertimbangan tertentu dari peneliti. Kelebihan dari pengambilan menurut tujuan ini adalah tujuan dari peneliti dapat terpenuhi. Sedangkan, kekurangannya adalah belum tentu mewakili keseluruhan variasi yang ada.
· Pengambilan beruntun (Snow-ball sampling)
Merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan sistem jaringan responden. Mulai dari mewawancarai satu responden. Kemudian, responden tersebut akan menunjukkan responden lain dan responden lain tersebut akan menunjukkan responden berikutnya.[3] Hal ini dilakukan secara terus-menerus sampai dengan terpenuhinya jumlah anggota sampel yang diingini oleh peneliti. Kelebihan dari pengambilan beruntun ini adalah bisa mendapatkan responden yang kredibel di bidangnya. Sedangkan, kekurangannya adalah memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu mewakili keseluruhan variasi yang ada.


4.3. Penanganan dan penyimpanan sampel
Setelah pengambilan sampel, air sampel sebaiknya segera dianalisis. Jika terpaksa harus disimpan, setiap parameter kualitas air memerlukan perlakuan tertentu terhadap sampel. Selain perlakuan dengan bahan kimia, pengawetan yang paling umum dilakukan adalah pendinginan pada suhu 4ºC selama transportasi dan penyimpanan. Pada suhu tersebut, aktivitas bekteri terhambat. Sampel yang ditunda pengukurannya dan terpaksa harus dilakukan penyimpanan sebaiknya dilakukan labeling pada botol sampel yang digunakan. Pelabelan botol sampel sangat penting dilakukan untuk menghindari kekeliruan saat analisa sampel. Pelabelan minimal meliputi pencatatan data tentang :
Ø Jenis air, misalnya air tanah, air limbah, air sungai, air laut
Ø Lokasi atau titik pengambilan sampel, disebutkan lokasi yang pasti/jelas dimana sampel diambil
Ø Parameter yang akan diperiksa
Ø Cuaca saat pengambilan sampel
Ø Tanggal dan waktu (jam) pengambilan sampel
Ø Nama yang mengambil sampel
Frekuensi pengambilan sampel air tergantung pada beberapa faktor, yaitu perubahan beban pencemaran dan debit air, tujuan pemantauan kualitas air, dan kemampuan analisis. Pada prinsipnya hampir semua parameter kimia air dapat dianalisa secara akurat di laboratorium. Tetapi hasil analisa tersebut akan tidak ada manfaatnya apabila cara pengambilan sampelair di lapangantidak sesuai dengan sifat dari beberapa parameter kimia air yang sangat sensitif terhadap kontak langsung dengan udara, maka pengambilan sampel pun harus dilakukan sedemikian rupa sehingga kontak air dengan udara dapat dihindari serta air dapat dibawa ke permukaan dan ketika sampai di laboratorium, tidak akan mengalami perubahan sifat (Anonimous, 1992).

4.3.1. Teknik pengawetan sampel
Pengawetan contoh yang sempurna untuk sampel perairan adalah tidak mungkin, mengingat sifat-sifat kestabilan dari masing-masing unsur yang terkandung pada contoh tersebut tidak mungkin dicapai dengan sempurna. Fungsi pengawetan adalah memperlambat proses perubahan kimia dan biologis yang tidak terelakan. Pengawetan sangat sukar karena hampir semua pengawet mengganggu untuk beberapa pengujian.
Menyimpan sampel pada suhu rendah (4°C) mungkin merupakan cara terbaik. Untuk mengawetkan contoh sampai hari berikutnya penggunaan reagent pengawet dapat dilakukan selama tidak mengganggu proses analisa dan penambahan ke dalam botol dilakukan sebelum pengisian contoh sehingga contoh dapat diawetkan secepatnya. Tidak ada satu metode pengawetan yang memuaskan karena itu dipilih pengawetan yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan.
Semua metode pengawetan kemungkinan kurang memadai untuk bahan-bahan tersuspensi. Penggunaan formaldehid tidak dianjurkan karena mempengaruhi sangat banyak pemeriksaan. Metode pengawasan pada umumnya terbatas pada kontrol pH, penambahan zat kimia, pendinginan dan pembekuan. Parameter-parameter tertentu lebih banyak dipengaruhi oleh penyimpanan contoh sebelum dianalisa daripada yang lainnya.
Beberapa jenis kation dapat hilang karena diserap oleh dinding wadah gelas seperti alumunium (Al), Kadmium (Kd), Krom (Cr), Tembaga (Cu), Besi (Fe), Timbal (Pb), Mangan (Mn), Perak (Ag) dan Seng (Zn). Sebaiknya untuk parameter-parameter diatas, contoh diambil secara terpisah dan ditampung dalam botol bersih serta diasamkan dengan HCl pekat atau H2SO4 pekat sampai pH 2,0 untuk mengurangi absorbsi pada dinding wadah. Parameter pH, temperatur dan gas terlarut harus segera diperiksa di lapangan karena parameter tersebut mudah sekali berubah dalam waktu singkat.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
 Pada data inventaris alat dan bahan yang saya dapat dari hasil laboratorium yang kami gunakan sebagai acuan pembuatan makalah ini laboratorium (lab.4) SMK Negeri 7 Bandung sudah sangat spesifik, dan sesuai format yang ditentukan untuk format inventaris alat yang sudah dijelaskan, cara penulisannya pun rapih dan teratata, sehingga dapat saya simpulkan bahwa data inventaris alat dan bahan lab.4 sangat baik. Terdapat juga kekurangan yaitu pada data perawatan alat, di lab.4 tidak terdapat data perawatan alat, sehingga tidak dapat diketahui spesifikasi baik atau tidaknya alat yang digunakan.
Pada laboratorium lab.4 SMK Negeri 7 Bandung tidak menerima analisis sampel dari luar akan tetapi tidak menutup kemungkinan ada sampel dari luar yang memang harus dianalisa.









Comments

Popular posts from this blog

MENGHILANGKAN NODA PENGOTOR PADA ALAT ALAT GELAS

PENENTUAN KADAR NIKOTIN PADA TERONG UNGU DAN TERONG HIJAU

CARA MENGATASI TUMPAHAN BAHAN KIMIA